Jul 11, 2011
2 notes

Di Bawah Kanopi (masiy corat-coret dums)

Kalau kau bertanya apa yang dilakukannya―seorang perempuan berwajah asia, dengan rambut hitam kelam sebahu, berkulit kuning langsat, bermata sipit berdandanan kasual dan senyum sumingrah― disini, di Bexley, di mana kerindangan dan pemandangan jarang-jarang dari komunitas perkampungan luar London tampak tidak terusik oleh globalisasi, dia tentunya akan menjawab begini : semuanya karena lelaki itu. Ya, seorang lelaki. Adam kalau kau cari di kitab suci, Romeo kalau kau cari di ingatan sastra dunia―sesosok lelaki, sebentuk realitas yang mengundang sakit dan dahaga di waktu yang bersamaan.

Bentuk realitas itu mewujud pada sesosok pria kaukasia dengan rambut sepirang jerami, mata sebiru langit kelabu di musim gugur dan gaya sardonikal yang menggelitik kesabaran. Bagi oranglain ia adalah bangsat, tapi bagi gadis itu―katakanlah dia bernama Sierra; karena sama seperti arti nama tersebut, ada bagian tertentu yang masih sepekat malam di dalam dirinya―pria tersebut adalah dewa. Inspirasi. Muse.


Pertemuan pertama mereka berlangsung di bawah kanopi pada musim panas tiga tahun sebelumnya. Tepatnya di salah satu sudut London, beberapa puluh meter dari The Piccadilly Circus, objek wisata terkenal yang biasa ditawarkan travel agent sebagai tujuan jalan. Di sana banyak pertokoan, kebanyakan menjual barang elektronik, beberapa menjual kue talam―yang berarti Cuma satu hal bagi Sierra; ramai. Sesak. Menyebalkan. Lantas hujan. Ya, hujan, di pertengahan musim panas.

Langkah kakinya memercik jalanan, tas kulit menjadi semacam pelindung perang diantara jutaan tetes air yang tiba-tiba menderas. Gadis itu mengandalkan matanya untuk mencari-cari tempat kering diantara tirai hujan. Dan sebuah kanopi toko kue berundak dengaan palang tutup, berwarna hijau lumut menjadi pilihannya untuk berteduh.

“Ck,”

Sierra mengintip dari bawah kanopi, memandang galak pada langit kelam itu. Apa ini efek globalisasi? Apa ini semacam kudeta makhluk dunia bawah terhadap para manusia yang menanam septic tank di bawah tanah? Pikiran itu bermain-main pada otak Sierra, alusi-alusi tolol menebarkan gelitik berdesiran di nadinya sebelum akhirnya pada detik kesekian, sesosok pria ikut menerobos di bawah kanopi yang sama. Keadaannya benar-benar basah, rambut jeraminya lepek dan bibirnya memucat.

“Sori,” katanya, suaranya mendenting dalam nada-nada jenaka. ”Keberatan aku ikut berteduh di sini?”

Sierra menggeleng. “Silahkan saja, ”sahutnya sembari merapat ke bagian belakang, memberi ruang.

Cuma sekilas senyum yang ia berikan. Lelaki itu lantas membuka jaketnya dan ikut menatap langit kelam. Ekspresi wajahnya sama tidak senangnya dengan Sierra. Yeah gadis itu mengerti. Sudah tadi panas menyengat, sekarang hujan, lantas seluruh badannya basah kuyup begitu. Apa lagi yang lebih buruk daripada ini semua, coba?

Bersimpati, seperti sedang menjumpai teman senasib sepenanggungan, gadis itu merogoh masuk ke dalam tas kulitnya. Diambilnya sebungkusan tisu, disodorkannya tepat di hadapan si pria, si lelaki dengan iris mata sewarna Kristal daun. Harusnya di saat seperti itu Sierra berbasa-basi. Sayang dia idiot dalam kinetik, syaraf motoriknya ikutan beku terbawa arus air menuju selokan London. Dan pria itu Cuma menatap bengong Sierra beberapa lama.

“Ambil saja. Maksudku, kau kan kebasahan.. dan… dan…”

dan Sierra tergagap seperti orang tolol.

“Trims,” pria itu mendengus, tersenyum. Diambilnya beberapa tisu dan dilapnya wajah basahnya sementara Sierra tertunduk, dadanya mencelos dan merutuk dalam benak. Di luar kanopi, hujan makin deras, suaranya mendesis-desis. “Kau baik. Orang asia memang selalu baik, huh?”

“Mukaku kelihatan kayak orang asia?”

Pria itu tertawa. “Memang di rumahmu tidak ada cermin?”

“Ada,” Sierra berujar, tubuhnya maju mundur, bergerak iseng―sisi kompulsifnya bikin saraf motorik mulai menjadi idiot. “Mungkin.”

Lagi, pria itu tertawa. Tangannya bersidekap di depan dada, terlipat, tidak memandang tepat ke arah Sierra sama seperti gadis itu menolak menatap ke arah si pria. Dua kultur yang berbeda, di bawah satu kanopi hijau, di pertengahan musim panas. “Cermin tidak terlalu mahal. Lima dolar di ujung jalan. Tiga dolar empat belas sen di toko bekas di sebelahnya. Kira-kira habis sekitar 600 yuan kalau ikut kurs hargamu.”

Mata Sierra mengerjap, tersenyum. “Nanti kubeli,” katanya. “Apa setiap orang Inggris suka mempromosikan barang buatan mereka sendiri dan mengkalkulasi harga pada turis?” Repetitif, nada yang sama diungkapkan si gadis dengan geli.

“Belum ada yang berlaku begitu padamu?” pria itu bertanya, Sierra menggeleng. “Well, tidak semua begitu juga. Lelaki Inggris gentleman, Missy. Dan hipokrit. Mereka barangkali bakal berbasa-basi denganmu soal pakaian. Cuma kebetulan saja kau bertemu bersama orang keliwat cinta produk dalam negri,”―segaris senyuman tampak―”dan termasuk pendukung setia Partai Buruh.”

“Partai..?”

Pria itu melirik Sierra, tertawa. “Lupakan. Kalau diteruskan nanti akan jadi pembicaraan yang membosankan,” tawa itu masih meninggalkan bekasnya di wajah, kerut senang tampak disekeliling matanya. “Kau turis? Bicaramu lucu dengan aksen Inggris.”

Sierra mengangguk malu, pria itu masih bersidekap. Hujan di luar kanopi terus menderas. “Yeah dari Indonesia.”

“Tropical Island?”

Mengangguk lagi, tapi kali ini wajahnya tegak, menatap si pria kaukasia. “Tapi pasti kau tidak tahu, kan? Mereka yang kuajak bicara Cuma kenal Bali, soalnya.”

“Memang tidak,” katanya mengangkat bahu. Nadanya cadas, langsung, tidak berbasa-basi. Matanya tidak balas melihat ke gadis yang sekepala lebih pendek daripadanya tersebut. Alih-alih mata itu menerawang memandang keluar kanopi, ke tirai air yang membiaskan pandangannya. “Tapi kedengarannya menyenangkan. Itu seperti dunia lain yang menggugah. Banyak orang Inggris ke tempatmu itu?”

“Mungkin.”

Terkekeh pelan. “Well, yang pasti mereka―yang kaya tentunya―akan punya pemikiran di sana,” kepalanya naik turun, tangannya turun. “Ahhh iya, aku Freddy. Kau..?”

“Seperti yang membintangi cerita pembunuhan lewat mimpi?” celetuk Sierra,tersenyum, tubuhnya masih bergoyang maju mundur. Sekelebat saja ingat dengan seraut wajah mengerikan bertopi hitam memakai baju bergaris-garis hitam merah.

“Aku masih makhluk dunia fana dan kuku-kukuku tidak setajam besi, biarpun kedengarannya keren.”

Sierra tertawa.

“Namamu?”

“Panggil saja Sierra.”

Alis Freddy terangkat. Tidak menduga mendapatkan nama itu dari yang punya wajah seperti ini, rupanya? Biasa, banyak yang bilang nama itu terlalu kebarat-baratan untuknya. Neneknya bilang pengkhianatan terhadap adat, ibunya bilang cocok dengan matanya. “Jadi Sierra, kau turis? Sudah berapa banyak tempat yang kau kunjungi di Inggris?”

“Stongehenge dan The Piccadilly Circus… gak berjalan bagus..”

“Fenomena alam, huh?” Freddy tergelak.

“Yeah,” Sierra tersenyum maklum, hujan di luar kanopi berangsur-angsur mereda, sedikit bikin kecewa. “Dan Tuhan dengar lalu bikin hujannya reda. Aduh, Inggris memang aneh.” Malah gerutuan yang terdengar dari mulutnya.

“Baiklah. Jadi kau asia, kau Sierra, kau turis dan kau suka menyalahkan Tuhan soal cuaca.”

Alisnya terangkat, cemberut mendengar konklusi dari lawan bicara yang baru dikenalnya. Segelintir nada tidak senang menyelip diantara jawaban atas pernyataan Freddy barusan. “Uhmm.. tidak begitu juga. Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan.”

Pardon, me,” Freddy berujar, menatap rintik-rintik diluar kanopi. “Kalau begitu boleh berbincang supaya aku membatalkan omongan tersebut dan dibilang terlalu cepat mengambil kesimpulan?”

“Apa semua lelaki Inggris selalu bikin alasan sebelum mengajak seseorang keluar?”

“Aku istimewa, Miss.”

Sierra tertawa. Pria itu tidak bersidekap. Pun hujan sudah nyaris berhenti. Keduanya lantas pergi dari bawah kanopi, berjalan bersisian, memperpanjang percakapan menuju café di ujung jalan.

  1. insidethelockedmind said: nge-like dulu, baca entar hahahah XD btw saya pindah tumblr ke midsummersunshine.tumbl… :3
  2. lindaraharja posted this
About
A dull Virgo, for sure. =']

have you met seriouspride.tumblr.com ? yea, it's my other dull blog :'] Subscribe via RSS.